Berawal Tanpa Persiapan, Berakhir Dengan Pertolongan : Gunung Kuta, bagian I

Ada kalanya kita harus berani mengambil keputusan untuk mencoba hal baru tanpa terlalu banyak membuat pertimbangan yang menciptakan keraguan. Tapi, setidaknya risiko juga perlu diperhitungkan agar dapat dimitigasi.

Inilah perjalanan kami ke Gunung Kuta.

Puncak Gunung Kuta terlihat dari jalur Curug Mariuk

Sebenarnya sudah cukup lama kami berangan-angan untuk suatu kali mencoba hal yang berbeda. Hal yang berkaitan dengan alam. Mungkin bersepeda jarak jauh, berjalan kaki yang lebih jauh, atau mendaki gunung. Tapi namanya angan, selama bertahun-tahun ia hanya tersimpan dalam pikiran meski sering hadir dalam percakapan. 

Hingga kemudian kami sering menonton video para pendaki yang berseliweran di youtube yang memancing kami untuk segera merealisasikan angan. Gunung Kuta menjadi rencana pertama kami. Alasannya, dengan ketinggian 1050 mdpl Gunung Kuta lumayan ringan untuk kami yang belum terbiasa dan belum mempunyai peralatan yang lengkap.

Rekor pendakian saya amat rendah. Semasa remaja, saya hanya pernah mendaki Bukit Dauh dan Bukit Palano. Keduanya tak jauh dari rumah di Payakumbuh. Untuk kelas gunung, hanya Gunung Bungsu dengan ketinggian sekitar 1250 mdpl yang pernah saya daki. Itu pun tektok, naik pagi, turun siang. Bukan berkemah. Gunung yang lebih tinggi dan lebih serius semisal Marapi atau Singgalang belum pernah saya daki. Alasannya, karena Ibu belum memberi izin. Saya tidak berani melangkahi izin Ibu. Katanya, restu ibu itu keramat. Jangan main-main. Kecuali kamu ingin dikutuk menjadi batu, seperti Malin Kundang.

**

Pagi itu sekitar jam 10, saat saya menonton video pendaki lain mendaki Gunung Kuta, Nazila nyeletuk, “Kita naik besok saja.” Tentunya tektok. Namun Morteza tidak mau tektok. Morteza ingin berkemah di gunung.

Dalam nekat, saya menyetujui keinginan Morteza. Kami akan naik gunung hari ini juga, berkemah semalam, lalu pulang esok harinya. Kok disebut nekat? Ya karena kami tidak punya peralatan. Hanya Morteza yang punya sleeping bag dan sepatu gunung karena kebetulan dia pernah bersekolah di Sekolah Alam. Sedangkan Nazila dan Saya tidak. Kami juga tidak mempunyai senter dan alat penerangan. Untuk menutupi kekurangan alat penerangan, saya mencopot lampu sepeda dan juga membawa lampu hasil prakarya Morteza ketika praktik mata pelajaran IPA di SDnya. Nesting? Tak ada. Untuk itu saya sempatkan memotong kaleng minuman kesehatan untuk dijadikan kompor spiritus. Haduh.. 

**

Setelah riweuh dengan rencana yang mendadak, perjalanan ke Gunung Kuta baru kami mulai sekitar pukul 15.30 sore. Tidak ada angkutan umum ke Desa Cibadak, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, dimana titik awal pendakian berada. Kami harus mencarter taksi online di luar aplikasi. Hehe, bukan karena nakal ya, tapi karena memang tidak ada layanan taksi online ke sana. Tentunya hal itu membingungkan kami sekaligus membingungkan driver. Kok tidak ada layanan ke sana?

Pertanyaan kami akhirnya terjawab apabila taksi online mulai memasuki jalur menuju desa. Gila. Jalurnya dipenuhi tanjakan curam yang sesekali diselingi lubang-lubang dan bebatuan yang mengerikan bagi mobil dan driver yang tidak terampil. Beberapa kali mobil terhenti di tanjakan, kehilangan tenaga. Sempitnya jalan juga membuat kami tidak bisa berpapasan dengan kendaraan lain. Pantas taksi online tidak menyediakan opsi layanan menuju ke daerah tersebut.

Untungnya driver yang membawa kami ke sana dibesarkan di Bandung yang topografinya juga dipenuhi tanjakan dan turunan. Kalau driver biasa, mungkin sudah angkat tangan. Kami angkat topi kepada Bapak Driver. Bravo.

**

Di posko pendakian atau disebut juga basecamp, kami disambut Kang Endar, contact person yang sudah saya hubungi sebelumnya. Berkomunikasi dengan Kang Endar saat itu susah-susah gampang. Bukan karena Kang Endarnya, tetapi karena lemahnya sinyal HP di sana. Jadi kalau kamu kirim WA siang, Kang Endar mungkin baru akan membalasnya sore kalau kebetulan ada sinyal nyasar ke HPnya.. Hehe.

Setelah mengurus Simaksi dan menyewa kemah, Morteza, saya, dan Nazila pun memulai pendakian pada pukul 17.30 sore itu. Sebentar, menyewa kemah? Iya. Namanya pendaki tanpa persiapan, kami tidak membawa kemah. Kang Endar membantu menyiapkan kemah yang kami sewa 50 ribu per malam. Hayo, lumayan mahal atau lumayan murah?

Ritual sebelum memulai pendakian, Wefie dulu.

Setelah berdoa, kami memulai perjalanan ke titik awal pendakian. Sepanjang perjalanan kami diikuti oleh tiga ekor anjing. Entah apa mau mereka. Mungkin mereka iri melihat kami berfoto-foto. Sedangkan mereka, jangan kan untuk berfoto-foto, kamera pun tidak punya. Di situlah kita perlu bersyukur tidak dilahirkan sebagai anjing yang tidak bisa selfie.

Titik awal pendakian Gunung Kuta berserikat dengan titik awal pendakian Curug Mariuk. Di titik awal ini saja kami telah diberi jalan bercabang, hendak ke Puncak Kuta, atau hendak ke curug? Tidak boleh ragu-ragu, kayak kamu yang masih maju mundur untuk mengutarakan isi hatimu kepada dia.. Hahaha.

Selepas mengambil jalur kekiri, kami mulai melalui jalur treking yang sedikit menanjak. Mungkin hanya butuh satu atau dua menit dari gerbang kami telah menemukan pos satu. Di sana kami duduk sebentar sebelum memasuki jalur yang lebih menanjak lagi.

**

Jembatan kecil membentang sebelum kami memulai tanjakan. Di sana kami berpapasan dengan pendaki lain yang baru turun. Nampaknya mereka keluarga yang hanya tektok.

Jalur yang kami lalui masih berupa kebun milik warga. Ada kebun kopi dan kebun singkong. Sebahagiannya nampak menghitam sisa pembakaran pasca panen. Jalurnya kadang melandai, kadang agak curam. 

Tanjakan menuju puncak

Ada tiga hal yang saya cemaskan saat mendaki ini. Pertama struktur tanah yang mudah terurai karena telalu lama tidak dibasahi hujan membuat kaki mudah terpeleset. Dengan sepatu yang tidak didesain khusus untuk menjelajahi gunung, peluang untuk terpeleset menjadi lebih besar. Kedua, malam yang gelap sementara peralatan penerangan kami amat terbatas. Ia bisa menyebabkan kami salah langkah menginjak tanah yang licin, atau mungkin membuat kami tidak awas apabila ada hewan yang berbahaya, atau mungkin juga membuat kami salah memilih arah sehingga tersesat. Hal yang ketiga yang saya cemaskan adalah langit ditutupi awan yang menghitam seperti sedang menahan hujan yang hendak tumpah ke bumi. Bagaimana jika hujan turun saat kami belum tiba di area perkemahan? Sedangkan kami hanya bermodal jas hujan instan yang dibeli di minimarket.

Kecemasan kami akan gelap akhirnya tiba juga ketika maghrib menjelang. Hitam mulai memagut langkah-langkah kami. Senter sepeda saya nyalakan. Sedangkan Nazila dan Morteza menyalakan senter HPnya. Saya sudah wanti-wanti agar kami hemat batere HP mengingat tidak ada tempat mengecas jikalau lowbat nanti.

Pos dua kami temukan dalam remang. Bentuknya seperti gubuk tanpa dinding. Saat itu kami tidak tahu bahwa gubug ini adalah pos dua. Tidak ada tulisan apapun di situ. Belakangan ketika kami sudah turun, Kang Endar memberi tahu bahwa sebenarnya gubug itu ialah pos dua. Namun papan penunjuknya telah hilang diambil orang nakal dan belum diganti.

Di pos dua, kami pun berpelukan, ala teletubies.

Tujuan kami selanjutnya adalah Area Perkemahan Bukit Wanapa. Dalam gelap, kami terus melangkah. Jalanan terus mendaki dan bersemak. Biasanya saya was-was bila berada di semak-semak. Takut kalau ada hewan berbisa. Kali ini berbeda, tidak ada rasa cemas. Mungkin saking excitednya.

Kegembiraan kami makin menebal ketika mulai melihat cahaya. Ya itulah warung Pak Kamal, sebagai penanda pintu masuk menuju area perkemahan. Di warung Pak Kamal tersedia makanan dan minuman serta toilet untuk para pendaki. So kalau kamu kurang perbekalan, tidak perlu cemas. Kalau sekedar minuman dan indomie, warung Pak Kamal ada. Kita juga tidak perlu menggali tanah untuk keperluan buang air besar atau kecil. Numpang saja di toilet dekat warung Pak Kamal. Pak Kamal memang kamal alias sempurna.. hahahaha.. Lho, kok jadi Rita Depulsa? Ga bahaya ta?

**

Sesudah berhenti sebentar di warung Pak Kamal, kami melanjutkan perjalanan ke area perkemahan Bukit Wanapa. Areanya luas. Mungkin seluas lapangan bola. Konturnya bergelombang. Saya ingin menempatkan kemah kami di tepi bagian paling tinggi, agar dapat menikmati pemandangan yang memikat. 

View dari area perkemahan Bukit Wanapa

Malang bagi saya, saya lupa bertanya kepada Kang Endar tentang model kemah yang kami pinjam. Hampir satu jam saya mencoba mendirikan kemah, tidak berhasil. Saya tidak tahu manual mendirikan kemah ini.

Saya mulai ragu apakah kami akan bisa bertahan malam ini tanpa kemah? Sedikit-demi-sedikit mulai ada penyesalan dari Nazila dan Morteza mengapa kami tidak membawa kemah dari rumah saja.

"Ayah sih pakai sewa kemah segala. Padahal kita ada kemah sendiri yang kita paham cara memasangnya," mereka menyesali saya.

Memang kami mempunyai kemah. Tapi ukurannya hanya untuk dua orang dan modelnya single layer. Saya tidak percaya diri membawa kemah seperti itu ke gunung. Bagaimana kalau hujan tiba?

Kini kami terdiam tidak tahu harus melakukan apa. Mencoba me-Whatsapp Kang Endar hanya sia-sia saja. Ini kan blankspot, tidak ada sinyal. Kami tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa? Dalam kondisi ini penyesalan mulai merasuki keyakinan saya. Makanya, naik gunung kok tanpa persiapan. Mendadak kayak tahu bulat digoreng dadakan lima ratusan. Inilah akibat memakai ilmu katak, dimana terpikir langsung meloncat tanpa membuat pertimbangan yang matang. Ini gunung lho.. dingin.

Di tengah kebingungan kami, Tuhan mengirimkan empat anak muda. Iqbal, Raihan, Ramdhan, dan Farhan. Mereka tiba-tiba datang mencium tangan saya dan menawarkan bantuan. “Di gunung kita harus saling membantu, Om.” Kata Farhan.

Dengan kecekatan mereka, kemah kami pun berdiri. Tak sekedar mendirikan kemah, keempat anak muda itu juga mencarikan posisi yang lebih aman, di bawah pohon tak jauh dari kemah mereka. Biar bisa saling menjaga katanya.

Alhamdulillah. Meski berangkat tanpa persiapan, harapan kami kembali membuncah berkat pertolongan. Bersyukur pada Tuhan, dan terima kasih kepada Iqbal, Raihan, Ramdhan, dan Farhan jika kalian membaca postingan ini.

Bersambung.[]

Post a Comment

0 Comments

Recent Posts